Sebagaimana Engkau Berdiri di Depanku

17 10 2011

sebagaimana engkau berdiri di depanku,
mengajakku pergi membunuh arus-arus
waktu, berburu sunyi di sungai beku.

sebagaimana aku membuka pintuku,
menatapmu dengan mata yang lelah
: impian itu sungguh nyala yang lungkah

satu persatu kami terpisah lagi,
engkau dilarikan dalam sunyimu
aku disenyapkan dalam riuhku.





Siapa Boleh Tinggal di Kemahmu?

14 10 2011

Sebelum tidur, aku rebahkan lagi
bisik-bisik sepanjang hari ini. Biar
mereka berlompatan, hilang
di dalam hutan.

Aku sendiri terduduk, menatap
bayangan mereka. Mengecil di
sudut mata. Aku berkaca-kaca.

Memang ada sebuah kavling,
berisi hutan dan hewan yang terasing.
Puluhan tahun, bisikan-bisikan itu
menyeret kaki dengan tampang kuyu.
Jejak mereka meninggalkan lagu,
tentang masa kecil di tanah Ur.

Aku sendiri di padang ilalang,
mencarimu, mendaraskan lagi
mazmur itu: siapa boleh tinggal
di kemahmu?





Pagi Pukul 2

13 10 2011

pada pagi pukul dua, aku
tahu malam telah buta.

sayuran diturunkan dan
buah-buah dipajang. doa-doa
kau panjatkan dan rindu itu
kau bisikkan. rindu para tukang,
isak burung bermigrasi.

pada pagi pukul dua, bising
telah mulai. tapi, senyap tak
lenyap, berpendaran di lentera.

 








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.