Angin

3 03 2014

Dia berhasil menemukan gelisah.
Rupanya engkau tak rapi-rapi amat.
Perasaan itu kaupikir telah kau larung
jauh-jauh, tapi uapnya bebas menari
terbawa ke sana ke mari.

Dan, angin itu mengajaknya pergi
membumbung tinggi. Di langit, mereka
menerbitkan rindu di ufuk barat. Engkau
melihatnya dengan kecut dalam perjalanan
pulang berlelah-lelah seharian.

Setiap senja, engkau gelisah lagi,
tentang warna biru yang tak pernah kuyu itu,
yang begitu sering kabur, tertiup udara kantormu.

 

 

 

 





Ombak

3 03 2014

Engkau menatapnya sejak dari kejauhan,
dan rupanya dia tak pangling padamu.

Dialah riak-riak air, yang kecipaknya
terekam dalam ingatan masa kecilmu.
Kini telah besar anak itu, pikirmu.
Ia menjadi ombak, dan senyumnya
yang lebar memantik perasaan geli:
seperti deru angin menari serta butiran
pasir dan laut yang merayapi kaki.

Kau merasa sayang, bahwa tak satupun
kata yang bisa menyapanya. Terhalang
kaca, lantai 3 kantormu.

Bagaimana mengatakan perpisahan padanya,
sambil mengharapkan ombak itu berbesar hati
menunggumu. Tolong tunggu.





Matahari

13 12 2013

Kini yang tersisa adalah
aroma tawa, dan rangkaian
kata-kata yang membisik
di setiap sela udara. Mengapung
di atmosfer, menyedot semua
masa. Kau adalah matahari,
dan saat kau tak ada,
kau tetap kau.





Hari-hari Ketika Engkau Menghilang

12 12 2013

Di hari-hari ketika engkau menghilang,
aku tak bisa berpura-pura sibuk.
Lambat laun, aku berhenti membayangkan,
ada seseorang yang melihatku di kejauhan.
Tapi kuharap, engkau tak benar-benar musna.

Di hari-hari yang sama, aku tersuruk
pada kegilaan untuk mencari lagi jejakmu.
Entah jejak kepergianmu atau jejak masa itu,
ketika ada seseorang yang muncul tiba-tiba
dan meniupkan cinta tiba-tiba.

Dan ketika aku dan engkau tak lagi bersua,
aku tak tahu lagi apakah kita masih
anak yang sama, yang memanjatkan doa
melawan pagi buta di taburan lelampu kota.





Menukar Angin Rindu

12 12 2013

Engkau ingin menukar angin rindu itu,
dengan bisu yang telah lama kaucipta.
Bisu yang menamai ribuan jarak,
antara dia dan cintamu yang mangkrak.

Engkau ingin menukar angin rindu itu,
dengan kabut yang seperti selimut.
Sesuatu yang lisut mendekapmu,
mendekap erat kenangan itu.





Hilang, Susut, lalu Redup

12 12 2013

Yang hilang dalam lelampu malam,
mungkin hanya kenangan akan gigil
hatimu hatiku memberangkatkan detik
untuk berlalu di sela genggaman tangan.

Yang susut dalam kabut pagi itu,
mungkin hanya wajahmu yang haru
serta perpisahan yang tak tersuarakan
kecuali lewat uap di kaca kereta.

Yang redup di hatiku kini,
mungkin hanya doa-doa itu.
Tapi rindu padamu adalah
unggun yang nyala. Selalu.





Dari Semula, Begitu Saja

26 08 2013

Sampaikan pada langit kota,
kuingin berbagi waktu dengannya.
Duduk bersama pada hari yang biasa,
mendengar ceritanya tentang
orang-orang yang bermimpi terbang.

Tiga atau empat jam tidak terasa,
dan langit pun tidak menolak
kalau aku ingin berlama-lama.
Dan di akhir ceritanya, mungkin
dia akan berlalu seolah semuanya
biasa. Dari semula, begitu saja.

Manusia.

 








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.