Dedaunan kamboja menutupi sepelempang jalan,
hendak menyingkat jarak dari kamarku ke pagar.
Dengan nafas yang deras, aku menengok saja
dari kotak kecil jendela bilik hatiku saat pagi benar.
Tentang daun yang berserakan, semalaman diguyur
kenangan, tentang angin yang menerbangkan hijau dari
ranting dan cabangmu. Adalah mengenai ufuk dan senja yang
sudah menginap di urat nadi. Berhibernasi seperti bayi.
Aku tak mau membangunkan mereka (untuk sekedar bertengkar?)
sambil kujinjing sandalku, mengendap melalui kisah dan kelana
: keluar dari kamar,
segera membuka pagar.
KomentarPengunjung!