Sebelum Tanak Kata-kata

11 07 2014

Di rongga dada tuan,
apakah masih tersimpan
percakapan kita semalam?

Ataukah Tuan ingin aku sekali lagi
menikamkan sunyi yang lebih menusuk?
Ataukah Tuan belum mau membalikkan
punggung, sebelum tanak kata-kata ini?

Di rongga dada tuan,
hanya kuingat pertemuan itu,
tapi kata-kata itu telah sepi.

Engkau hanya lewat dalam sunyi,
di sini aku terdampar dalam bebunyi.





Tenggelam dalam Samudera

11 07 2014

Dia yang tenggelam dalam samudera,
mungkin rindu akan saat pertama
hujan menitik pelan di keningnya.

Dia yang terempas di ribuan suara,
mungkin ingin merasa-rasai lagi
kenangan saat ia terbata-bata.





Di Muka Pintu

10 07 2014

Bagaimana caraku menempuh hari-hari kerontang
yang perlahan menyapu hatimu? Bagaimana
caraku berteduh di tritisan sebelum musim
panas yang ranggas datang melibas? Dan, bagaimana
kuketuk pintumu sebelum aku kuyup oleh tetes-tetes
doa yang turun dengan deras dari langit kamarmu?

Bagaimana caraku mengingatkanmu untuk keluar,
sejenak memantik hasratmu akan semi yang menyemarakkan
daun-daun di jalan setapak itu? Aku mau kau percaya: kita bisa
hanyut lagi mengarungi percakapan, tanpa doa, tanpa mantra apa-apa.

Tapi, bagaimana kalau kau lebih memilih untuk lenyap saja?





Saat Cinta Tinggal Sepucuk

10 07 2014

Saat cinta tinggal sepucuk,
engkau berkirim berita
“Yang terhormat kenangan,
mohon menginaplah semalam.”

Saat rindu tinggal kata-kata,
engkau menagih janji
“Yang terhormat cinta,
mohon lunasi utang Anda.”

 





Bahasa Udara

10 07 2014

Ajarilah kami,
bahasa udara.

Bahasa yang menyatu
dengan rimba rasa.

Bahasa yang pecah
tanpa kita gelisah..

oleh jarak, ataupun
ingatan yang retak.





Sementara Kata-kata Terkubur

30 06 2014

Sementara matamu menemukan danau telah membeku di hati,
sekejap pandanganmu menyapu sebuah perahu yang membisu di tepi.

Sementara hatimu menyalakan unggun dengan semak yang rimbun,
sekejap jiwamu pun mengorek-ngorek bara yang tersisa di laci ingatan.

Sementara kata-kata terkubur bersama abu yang pekat dan dalam,
sekejap engkau mengucapkan satu-dua doa memohon habisnya malam.

 

 





Rahim Kata-katamu

27 06 2014

Ke dalam rahim kata-katamu, hangatkan aku

sebab tubuhku adalah lembah
dan pembicaraan kita di malam itu
adalah matahari musim semi.

Ke dalam rahim kata-katamu, peramlah aku

sebab jiwaku adalah benih
dan pelukan kita pada pagi itu
menyemai sulur-sulur hijau.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.