Seandainya aku berkata: aku gila,
itu karena aku mendadak merasa seperti
sebuah kartu pos, yang teronggok lama
di kotak suratmu. Rasanya menyesakkan.
Aku menunggumu, aku menunggu kedatanganmu,
membuka pesan hatiku, dan mencermati
beberapa kalimat saja. Tidak banyak.
Gila. Aku hanya selembar pesan, dan
tidak mungkin rebah, lalu membiarkan
diri menghablur di udara? Tidak.
Ingatanku padamu adalah jarak
dan waktu. Kita bergerak, dan aku selalu
mengejarmu. Di mana dirimu?
Advertisement

suka sekali dengan puisi ini, meski sendu maknanya. terus berkarya ya..
hahaa, pastii. thanks udah baca ya, rumpelstiltskin..