Setelah waktu berlalu, tibakah saat
rendezvous? Tibakah saat kita pulang
lagi, pada hati yang damai, setelah
secangkir teh dan beberapa cerita
laga kita masing-masing.
Dan, di ambang jendela, aku hendak
menguping bisikmu, tentang malam itu,
yang tidak kita kecap benar-benar.
Seperti apel, yang kilatan kulitnya
memantulkan kecut yang terlampau pilu.
Di ambang jendela, ratusan kilometer
jauhnya, aku menghela nafasku.
Sebuah nafas yang ringan, tapi
sering tak terpikulkan.
Advertisement

KomentarPengunjung!