Langit Bisu Biru

21 02 2018

Sekian tahun aku menabur kata di langit,
langit tampak bergeming dalam birunya.

Aku menanti sendiri dalam anganku,
kapankah sulur-sulur akan berbisik di mimpi?
Di ujung siang yang terik, aku tertunduk,
kapankah buah-buah memecah bisu kota?
Mungkin hanya centang prentang yang terjun,
saat hujan berjatuhan ke genting-genting,
dan biasanya aku jatuh dalam lelap.

Aku tak ingat lagi, apa ada maknanya
dari seombyok kata yang kusebar di langit,
apakah nostalgia, wiracarita, atau seperti
layaknya manusia lain: doa-doa?
Aku tak ingat. Aku tak ingat.

Langit tetap bergeming dalam birunya,
dan kata-kataku kian menyendiri,
satu demi satu, kutanam
hanya untukku saja.

 

Advertisements




Dikekang Makna

22 01 2018

Nyala di kepala
mengandung warna-warna
tersapu dengan sendirinya

Apakah di dalamnya
engkau nyenyak saja
atau dikekang makna





Jangan Berkata Tidak

14 11 2017

Jangan berkata tidak
pada gemuruh waktu
dari kejauhan merangkak pelan
di matamu, kini tampak menderu

Singsingkan lengan bajumu
demi mendengar dentuman sunyi
dadamu menghentak-hentak
dikejar kelam itu

Jangan terkunci mulutmu
Jangan pasang muka itu
Berdirilah di tebingnya,
menghadap gigir,
luasnya semesta

hanya ada aku
dan kau saja.
Lainnya,
sirna.





Tak Ada

9 11 2017

Tak ada hidup yang paling getar,
selain menggiring angin di dada
menuruni jalan berbatu
di lorong jiwa

Tak ada nyali yang paling tajam,
selain menerjuni liang menganga
di tengah-tengah diafragma
sambil membuang doa

Tak ada malam yang paling kelam
selain menendang unggun yang nyala
yang selama ini membakarmu
dengan api yang palsu





Angin dan Kabut Pekat

9 11 2017

Angin membawa kabut pekat,
menyusup di relung-relung
sesaknya belantara kota

Angin yang sama terduduk resah
terdampar di pucuk gedung
memandangimu di kejauhan

Engkau memunguti kerinduan
yang berserak namun berceceran
sahabatmulah tukang poranda
angin yang terlepas dari dada





Berdua Kita

8 09 2017

Kendati Anda marah, Tuan
buat apalah?
Isi kepala Anda, Tuan,
meliputi samudera.

Aku dan kata-kataku di malam itu,
berbual-bual hingga menderas,
mungkin tidurmu, Tuan, terseret
dalam ombaknya, hingga terdampar
di gigir hatiku yang kerontang.

Kendati Anda marah, Tuan,
buat apalah?
Toh di sini saya,
berdua kita.

 





Menghela Namamu

8 09 2017

Napas ini rindu rintik
melambatnya waktu
pagi sehabis hujan
tetes air di genangan
datang burung prenjak
dan daun bergoyang pelan.

Ingatan mengalun
sesuatu yang silam
yang fana dan temaram
dalam bilik paru-paru
semilir angin mengisi
dalam diam diriku
menghela namamu.