Defamiliarisasi

12 04 2007

Formalisme, sebuah aliran yang cukup lama dalam kegiatan sastra, menggali unsur apa yang menjadikan tulisan-tulisan tertentu disebut dan diterima sebagai sastra. Pastilah ada sesuatu yang menjadikannya pantas disebut sastra, sebagaimana sastra sering dipahami sebagai tulisan-tulisan yang adiluhung, indah, bermakna, dan sebagainya. Defamiliarisasi adalah jawabannya. Kekuatan sastra, kalau boleh dibilang, adalah memandang dan memperlakukan hal-hal yang biasa menjadi asing, detail, dan dari semuanya akhirnya terasa baru atau luar biasa.

Apa yang bisa saya tarik dari prinsip itu adalah bahwa sastra menjadi cara untuk lepas dari cara pandang ‘normal’ terhadap dunia yang terkesan telah baku dan secara operasional, otomatis. Dengan kata lain, sastra berupaya melakukan suatu deviasi terhadap bentuk-bentuk pemahaman normal (tak heran, para seniman dikatakan nyentrik). Tujuannya, adalah menyegarkan pengalaman hidup dengan jalan merunut lagi esensi. Jika sehari-hari, ke kantor atau kuliah pake celana, tiba-tiba kita baca puisi Joko Pinurbo, yang berjudul ‘Celana’, tentu ada sensasi yang lain dan baru.

Dalam film ‘Tiger and The Snow’, seorang guru sastra yang diperankan oleh Roberto Benigni pun berkata pada murid-muridnya:”Jika kau mau menulis sesuatu sastra, tidak perlu pusing-pusing. Pilihlah, comotlah kata-kata yang ada di dekatmu saat ini.” Dengan ini, lahirlah pengalaman saya mengenai: meja kursi, gantungan kunci, gagang pintu, ember, kaki, adkfjd, weriup, apuwerp, ewqrrty, 123414, \=-09, #$, …..


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: