Di tepi hatimu, saat mentari naik, seribu merpati beterbangan

17 04 2007

Katakan padaku, apakah kau risih saat kita duduk bersama,
di sebuah kafe, berteman lampu bercahaya segurat, dan kau
tahu aku telah menghabiskan berliter-liter kafein, serta bir murahan,
melanggar janji ketika kita pertama bertunangan: rawatlah badanmu.

San Li Tun di waktu malam, seperti kunang-kunang yang membintang di sarafku,
menjadikanku tampak ringkih di depanmu. Sayang, aku tahu engkau menungguku,
entah berapa lama, kau menanti. Setelah beribu-ribu kaligrafi, aku sadar betapa huruf-
huruf itu tak mampu membelenggu hatimu, untuk tidak menjemputku.

Tapi kini, setelah malam begitu naik, aku seperti terseret ke pantaimu. Aku seperti
terdampar di atas sebuah sekoci. Dan hanya malu pada diriku sendiri, yang membuatku
pasrah untuk turun di pasir putih hatimu. Tanah ini, sayang, seperti tanah yang
dirindukan Xaverius kala itu.

Kumelihat kunang-kunang menghilang,
berganti seribu merpati
yang beterbangan.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: