Lempung

17 04 2007

Ingatkah dulu Pak, engkau mengajakku
jalan-jalan di pagi hari. Kita menyusuri Godean
sambil mengejar matahari pagi untuk bersinar.

Kita berhenti di pabrik genteng,
dan kita duduk mengamati si abang,
mengaduk tanah liat. Aku bertanya padamu, Pak:
apakah itu? Jawabmu: lempung, le. Dulu kita
tercipta oleh itu pula. Dari lempung, lalu disurupi nafas Tuanmu.

Kini jika kuingat lagi, jalanan di Godean, aku jadi ragu.
Apakah lempung masih menerima diriku, sejak aku merasa
matahari sepanjang hidupku, telah memanggangku begitu
terik, hingga keras. lebih mirip batu.

Atau apakah aku sudah mulai siuman, dan
tak lagi kesurupan oleh nafas Tuanku.
Aku jadi malu, apakah aku masih berani berjalan ke
Godean. Masihkah lempung itu ingat padaku seperti ketika
aku merajuk. Kugenggam sebagian untuk kubawa
pulang. Aku pun takut, akhir-akhir ini, aku merasa mataharilah
yang mengejar-ngejar aku. Seolah mencari bukti: aku ini
lempung atau sekedar debu jalanan.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: