Sepertinya Kita Menamakan Ini Rindu

18 04 2007

Lantas kau membangunkanku dari kelelapan. Kau bilang: ini sudah pukul 10.00, cafe memang belum tutup, tapi kasihan istrimu menunggu. Engkau membantuku berdiri. Kau cari-cari kacamataku yang terlepas di lantai. Kau pasangkan di batang hidungku, lalu kau benahi bajuku. Ada beberapa buku politik dan album kenangan tua yang dengan sigap kau masukkan ke tasku.

 

Ahh, San Li Tun, kopiku segera akan habis, tapi aku masih mencari-cari wajahmu di sisa genangannya. Kemarin, aku ke Tiananmen, dan engkau tergantung beku di sana. Tapi, beberapa hari ini, wajahmu diseret-seret oleh lampu-lampu neon yang gemerlap. Maaf, seribu maaf, aku tak dapat menangkap tanganmu ketika kau terperosok ke lubang yang gelap, dan engkau terbaring di ampas kopiku, setiap malam, ketika lelah menyergap.

 

Aku pulang, kau mengantar hingga ke ujung jalan. Karena kau tak tega aku berjalan sempoyongan, kau hentikan sebuah taksi untukku.

 

“Terimakasih. Sampai jumpa esok, tuan.”, kataku. Tapi, tiada yang sebijaksana engkau, engkau tetap diam, lunglai berjalan.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: