Ideasi dan Kebebasan Pembaca

20 04 2007

Ahmad Wahib dalam catatan hariannya pernah bertanya pada diri sendiri mengenai Al-Quran, apakah kalimat-kalimat di dalamnya memang asli dari Tuhan atau berasal dari Nabi Muhammad sendiri. Dia berkata: kalau yang pertama yang terjadi, maka proses “ideation” akan sukar untuk dibenarkan, (padahal) kata-kata Tuhan itu mesti tertuju pada seluruh ruang dan waktu baik harfiyah maupun maknawi. Lepas dari iman Muslim, sesungguhnya seorang Wahib telah mempertanyakan Quran dalam kapasitasnya sebagai sebuah teks untuk mampu berinteraksi dengan waktu dan dengan pembacanya.

Setiap teks memang berupaya mengkomunikasikan sesuatu kepada pembacanya. Dalam komunikasi itu, terjadi sebuah interaksi antara teks dengan pembaca, di mana efek yang dikandung oleh teks direspons oleh pembaca dengan segala konteks dan pengalamannya sendiri. Implikasinya, perangkaian makna dalam kegiatan pembacaan selalu dikontekstualisasikan pada tempat dan saat itu juga. Lebih singkatnya, setiap teks sastra memiliki kualitas makna yang sifatnya polisemi.

Wahib menyebutkan “ideation”, sebuah kata yang dapat ditelusuri dari pemikiran Edmund Husserl dan dipakai dalam teori ‘aesthetic-response’ Wolfgang Iser. Ideation merupakan kunci pemahaman akan kegiatan pembacaan suatu teks sastra yang harus dihargai sebagai sebuah pengalaman estetis yang terpisah dari pengalaman kognitif. Ideation adalah sebuah sintesis yang terjadi dalam imajinasi pembaca ketika ia berhadapan dengan struktur teks yang dibacanya. Dengan sederhana, ideasi adalah pencerapan terhadap sastra.

Yang dapat dipetik adalah apa yang disebut sebagai sastra sebagai sebuah transaksi (Louis Rossenbalt-lah yang pertama menyebutkan transactional theory ini), antara apa yang dimiliki oleh pembaca dengan apa yang ditawarkan oleh teks. Oleh karena itu, adalah kekhasan sastra dengan bahasanya yang konotatif dan ruang cerita yang tak tegas, yang membuat pembaca memiliki kebebasan sepenuhnya untuk merangkai makna bagi dirinya sesuai dengan apa yang ditangkapnya dalam kegiatan pembacaan teks tersebut. Sekali lagi, pembaca harus diberi kesempatan untuk membaca, bergelut dan menarik makna secara bebas. Mengapa harus digurui atau malah ditekan?


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: