Jika Malam Masih Pekat, Bisakah Aku Tetap Terjaga?

24 04 2007

Datanglah pada malam, bersimpuhlah di hadapannya, dan hening tanpa kata saja. Ingatlah betapa gelapnya, yang bersijingkat di lorong-lorong, gerbong-gerbong, dan jalanan kota, pernah pula menapak di beranda hatimu. Dulu, sepersekian sekon setelah kelahiranmu. Meski tanpa kata, cuma tangis yang buta. Dari pekik-pekik patetik itu, kau tahu tidak ada yang mengaku salah, selain pasir-pasir putih tempat kau terhempas begitu saja, yang entah dia tuli atau mendengar. Dan, hari-hari yang menerobos bertubi-tubi, memperkenalkan malam sebagai kambing hitam, pada jiwa yang absurd ini.

Kau bertanya: jika malam masih pekat, bisakah aku tetap terjaga, untuk masih merasakan dinginnya angin pantai dan kuning-kuning plankton yang bercahaya ditimpa sinar bulan, serta garis horison yang mengingatkan kau pada entah yang berkepanjangan itu. Kau bertanya: jika malam pasih pekat, bisakah aku menyimpan buih-buih air, yang pelan-pelan pecah lalu musnah itu. Sekarang ketika kau sadar, bahwa telah banyak kata membuncah di hadapan malam, akankah itu doa atau ratap tangis, setelah kelu tanpa pangkal?

Dan, tanpa mengurangi rasa hormat, kau berbisik: kapan bunuhdiri malam?


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: