Mengamati Jejak-jejak Ujaran dalam Teks

3 05 2007

Ricoeur dalam Hermeneutics and The Human Sciences (1981) menjelaskan bahwa teks adalah varian dari ujaran (speech). Selayaknya ujaran, teks merupakan sebuah diskursus yang telah dibekukan dan wacananya terdokumentasi dalam wujud tertulis. Implikasinya adalah makna dalam teks dimengerti dengan jalan pencocokan (appropriation): seorang pembaca mengaktualkan situasi ujaran dengan mengkonstruksi makna teks berdasarkan pengalaman pribadinya sekarang ini. Atau dalam bahasa Barthes, teks itu menjadi ujaran yang kehilangan pembicaranya, sehingga matilah si pengarang, dan terbebaslah teks sekalian pembacanya.

Lebih jauh dari itu, teks di atas lebih tepat kalau dibatasi dalam teks sastra. Dalam sastra, hal ini tampak dengan jelas, karena sastra menurut Wolfgang Iser memiliki sifat-sifat ujaran, yaitu bersifat performatif, maksudnya: kalimat-kalimat dalam sastra itu bersifat menyajikan suatu tindakan tertentu.

Dalam pembicaraan mengenai ujaran, haruslah berpaling kepada seorang tokoh yang merumuskan teori tindak-ujaran (speech-act theory), yaitu John L. Austin. Dialah yang menjelaskan mengenai performativitas sebuah kalimat, yaitu bagaimana suatu kalimat itu doing something rather than reporting something. Suatu kalimat yang demikian mempresentasikan suatu tindakan, berupa intensi si pembicara yang terkandung dalam suatu kalimat, yang harus ditangkap oleh si pendengar. Kesuksesan kalimat itu diukur oleh sejauh mana intensi itu ditangkap oleh pendengar dan respons pendengar sesuai dengan yang dimaksud oleh pembicara. Kualitas ini disebut sebagai kualitas ilokusioner. Sehingga, jika ada kalimat: ‘Anjing Pak Budi galak’ tertempel di suatu rumah, tentulah kalimat itu bukan sekedar kalimat berita melainkan kalimat peringatan, yang mengandung intensi penulis untuk menyuruh orang-orang hati-hati.

Yang terjadi dalam teks sastra adalah bahwa kalimat-kalimat dalam teks itu merupakan kalimat performatif, dengan sifat semu, sebagaimana rujukan (reference) kalimat itu tidak ditemukan di luaran, alias bersifat fiksional. Akibatnya, rekonstruksi intensi kalimat-kalimat itu terjadi dalam imajinasi pembaca. Pembaca harus merumuskannya dalam imajinasinya dan mengambil respons sesuai dengan hasil pembacaannya. Jejak-jejak ujaran dalam teks sastra adalah jejak-jejak ujaran yang bersifat konotatif dan menyimpan sifat interaktif, karena memancing pembacanya.

Dari kualitas kalimat performatif yang seperti itu, jelaslah bahwa dari kematian pengarang, yang muncul adalah kemerdekaan pembaca yang bergulat dengan intens dalam interaksi dengan teks.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: