Menenun Makna dengan Merdeka

4 05 2007

Pembacaan sebuah teks pada dasarnya adalah proses interaktif, antara pembaca dengan teks itu sendiri. Interaksi itu terjadi ketika teks menyodorkan suatu pola, dan pembaca akhirnya menenunnya dengan segala latar belakang pengalaman pribadinya sebagai jantera untuk menemukan makna. Jika dikatakan merdeka, itu karena sebuah teks sastra menawarkan suatu ruang yang ada dalam imajinasi, sebagaimana unsur-unsurnya tidak menunjukkan referensi yang akurat-korelatif dengan dunia luaran.

Arswendo pernah mengatakan bahwa demikianlah jalan sastra, yaitu jalan yang memang bebas-merdeka. Sebuah puisi mau dibaca dengan menangis, ya monggo, tapi kalau mau dibaca dengan riang gembira, ya monggo. Sedangkan kalau ada yang membacanya sambil garang menyala-nyala, itu oke juga.

Tetapi, pertanyaan yang paling fundamental adalah apakah proses pembacaan seperti itu masih ada batas-batasnya? Tentu saja ada. Sebagaimana proses penarikan makna hanya bisa terjadi dengan membaca, oleh karena itu kemerdekaan pemaknaan hanya lahir sebagai konstruksi yang dikembangkan dari pola yang ditawarkan oleh teks. Dengan kata lain, kebebasan memaknai berasal dari intensitas pergumulan antara pembaca dan teks.

Jika Chairil menuliskan “Aku ini binatang jalang”. Seorang pembaca boleh menafsirkan dengan bebas apa itu binatang jalang, tetapi dia tidak boleh lari dari pola tekstual yang dihasilkan dari setiap kata ‘binatang’ dan ‘jalang’, dan susunan gramatikal yang menyatukannya.

Sama juga bohong? Tidak. Iser percaya adanya ‘gap’ atau ruang kosong yang tercipta dari kata-kata sastrawi, yang pada intinya bersifat indeterminate, atau tidak tentu. Pada kata ‘binatang’ yang secara ekstratekstual menunjuk pada ‘hewan, fauna’, ketika diletakkan dalam situasi puitis, dan disandingkan dengan kata ‘jalang’, kata ini menjadi imajinatif, menunjuk pada sesuatu yang mau tidak mau meminta interpretasi pembaca. Interpretasi yang seperti apa? Terserah pembaca.

Oleh karena itu, kemerdekaan pembacaan sastra mengarah pada kedewasaan bersastra, yaitu sebuah level di mana membaca sastra bukanlah sebuah tindakan konsumtif, memeras sastra untuk mencari saripatinya dengan anggapan bahwa sebuah teks itu mengemban sebuah hidden meaning. Acapkali, seorang kritikus melakukannya. Tidak heran, kita sering secara otomatis yakin bahwa kisah Siti Nurbaya adalah sebuah ‘kasih tak sampai’, karena sejak SD itulah yang disiarkan oleh sebagian besar guru Bahasa Indonesia. Padahal sebuah teks sastra mampu mendatangkan respons bermacam-macam.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: