Tukul Dibaca “Pukul!”

8 05 2007

Salah satu kenikmatan rakyat Indonesia saat ini tidak bisa dipungkiri – sejauh yang didapatkan lewat rating – adalah acara empat mata di sebuah tv swasta. Daya tarik utamanya adalah mas Tukul, siapa lagi kalau bukan hostnya yang merupakan rangkuman dari katrok, monyet, culun dan lain sebagainya itu. Host yang sekaligus pelawak itu membuktikan dirinya dicintai oleh rakyat, atau penonton tepatnya.

Empat Mata merupakan acara yang dipersiapkan dengan formula baru tim kreatif Trans 7, yaitu reality show yang disandingkan dengan humor. Keduanya adalah varian dari tontonan-tontonan publik yang digemari saat ini, yang barangkali saja, seandainya dilebut menjadi alternatif yang komplet.

Di balik itu, mari mencermati dan mencoba membaca Tukul dari sebuah kaca mata yang juga alternatif. Humor sebagai kajian estetis telah melahirkan banyak spekulasi dan teori. Mari melangkah dari paparan Hobbes yang yakin bahwa suatu kelucuan adalah “tiada lain merupakan suatu kepuasan yang muncul dari konsepsi secara tiba-tiba tentang yang hebat, dengan memperbandingkannya dengan kelemahan yang lain” (The Elements of Law, Natural and Politics). Inilah yang lazim disebut teori superioritas. Dalam hal ini, bisa kita ingat komedi-komedi gaya betawi yang terkadang penuh umpatan, atau bagaimana kita tertawa karena Dono selalu sial terus dibanding dua kawannya.

Selain itu, ada pula teori kedua dari Freud yang menjelaskan bagaimana kelucuan itu tidak lain adalah pelepasan dari ketegangan (Jokes And Their Relation to the Unconsciousness). Ini dikenal sebagai relief from tension theory. Hal-hal di dunia ini telah dibatasi sedemikian rupa sehingga manusia menjadi tegang. Pelepasannya tak lain muncul dari joke yang menjadi semacam katarsis. Dalam joke, orang menertawakan yang tersembunyi, seperti seks, politik, atau norma-norma.

Dengan kaca mata ini, kita bisa melihat bagaimana publik bisa tertawa terbahak-bahak. Publik yang adalah ‘orang biasa’ akan senang karena, diwakili oleh Tukul, bisa mengejek seorang selebriti, bahkan tak jarang seorang pejabat. Sekaligus menunjukkan superioritas mereka. Di lain sisi, penonton juga bahagia sekali karena lawakan-lawakan Tukul adalah lawakan yang norak, yang udik, atau yang biasanya tak pantas/memalukan masuk tv (seperti ungkapannya ndessoo, ngatini, katrok). Ini menjadi saat pelepasan seluruh norma tak kelihatan yang mengurung rasa malu dan tertekan untuk kemudian tertumpahkan secara publik. Apalagi semenjak Empat Mata meledak, semakin banyaklah orang-orang di kampung-kampung yang menyanjung-nyanjung kesuksesan perjalanan hidup si ‘ndeso’ Tukul.

Pernah dalam Media Indonesia, seseorang bernama Paulus Mujiran berkoar-koar mengenai anti-Tukulisme. Jika akhirnya ini menjadi sebuah isme, patut diperhitungkan pula sebuah paham di balik acara Tukul ini. James Scott menuliskan catatan antropologi mengenai bentuk-bentuk perlawanan rakyat kecil, yang salah satunya adalah dengan format dagelan atau pertunjukan. Paling tidak isme itu adalah bagaimana Tukul dan acaranya menjadi wadah gerakan penonton yang ingin merangsek ke ruang tontonan, karena jemu dibombardir tontonan yang selama ini, entah mau atau tidak mau, meminggirkan mereka, baik dalam sinetron dengan rumah-rumah gedong dan sederet kemewahan lain, maupun dalam infotainment dengan gaya hidup para selebriti yang seolah di atas angin itu.

Tukul bisa dibaca sebagai salah satu bentuk perlawanan penonton, yang sehari-hari cuma bisa menonton selebriti muter-muter, kawin cerai, belanja-belanji. Para penonton ini seperti diberi angin segar untuk bisa diwakili dalam lawakan kasar si Tukul. Dalam waktu dua jam, mereka boleh melihat konsep selebriti itu diterabas secara serampangan dalam sebuah format reality show. Dan, yang menerabas adalah orang yang kutukupret, seperti Tukul! Tidak cukup meyakinkan apakah acara Empat Mata dapat begitu saja ditolak, jika menyadari betapa acara ini punya potensi untuk selalu dicintai oleh penonton, sebagai pendukung superioritas sekaligus pelepasannya. Oleh karena itu, Tukul dapat dibaca ‘pukul’!


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: