“F**k You!”: Yang Digantikan dan Yang Signifikan

20 05 2007

Dalam beberapa kesempatan, ada kata-kata yang tercetak secara janggal, misalnya: b******n!, f**k you!!. Beberapa huruf yang diganti dengan asterisk itu memang sengaja dibuat demikian oleh sang redaktur, dengan kesadaran penuh bahwa kata-kata itu pada mulanya adalah kata-kata yang kasar atau cabul, yang tak pantas untuk diumbar secara publik.

Yang tak dipikirkan adalah bahwa upaya untuk melenyapkan sebagian huruf itu nyatanya sia-sia. Jika yang diinginkan adalah menyembunyikan makna kata tersebut, tentu hal ini tidak tercapai. Begitu pula jika yang diinginkan adalah membatasi penyebaran kata-kata tak senonoh dalam jurnalisme yang sifatnya mendua: mau tak mau, entah cabul atau sopan, harus mengungkap fakta sesungguhnya. Bagaimana mungkin?

Seperti yang dituliskan A. Gianto (“Makna dan Perubahan Makna”, dalam Menggagas Manusia Sebagai Penafsir), harus disadari dua arus besar penggunaan bahasa. Pertama, bahasa sebagai lambang bunyi dalam sistem pemikiran, dan kedua, bahasa yang digunakan secara referensial dalam pola pengalaman. Antara bahasa dalam sistem pemikiran dan bahasa dalam pola pengalaman, tentu terdapat perbedaan. Dalam sistem pemikiran, bahasa diperlakukan secara baku, dengan konsep yang terperinci. Sementara dalam pola pengalaman, bahasa diperlakukan secara tidak konsisten, tapi mewakili apa yang ditemui. Misal kata ‘air’. Dalam sistem pemikiran, ‘air’ adalah kata untuk menunjukkan benda dengan rumus kimia H2O, tetapi di pola pengalaman, air yang demikian akan susah ditemui. Kata ‘air’ dipakai untuk menunjukkan segala zat yang mengalir, bening, dan segar. Kesesuaian dengan benda yang ditunjuk (deskripsi) adalah ciri bahasa pengalaman, tetapi kejelasan konsep dan batasannya (definisi) adalah ciri bahasa pemikiran.

Pada ungkapan ‘f**k you!’, orang yang memiliki pengalaman mengucapkannya tentu tahu betul bahwa susunan huruf dan tanda baca itu mewakili kata ‘fuck you!’. Bagi dirinya, ‘f**k you!’ dan ‘fuck you’ tidak ada bedanya, sejauh maknanya sebagai umpatan tidak hilang. Dalam arti ini, ‘fuck you’ tidak berkurang maknanya. Parahnya, sebagai sebuah sistem tanda, ungkapan ‘f**k you’ justru memiliki makna baru. Yang semula, susunan f, k dan beberapa asterisk itu tidak mengacu pada makna apapun (dalam sistem pemikiran), kini ungkapan itu justru mewakili kecabulan ungkapan ‘fuck you’ yang diwakilinya (dalam pola pengalaman). Dengan kata lain, entah ‘fuck you’ maupun ‘f**k you’ merupakan kata-kata yang sama-sama kasar, sehingga orang tinggal memilih mau menuliskan yang mana, toh keduanya mewakili hal yang sama! Ya, barangkali tinggal menunggu grafiti di jalanan yang menuliskan kata-kata f**k you.

Cepat atau lambat, para redaktur akan sadar bahwa mereka kehilangan cara untuk membekuk makna-makna yang tak sesuai norma itu. Dalam sebuah sistem pengalaman, sistem tanda bergerak demikian merdeka dan tak tertebak. Seperti yang dikatakan Roland Barthes, dari sistem tanda yang jelas dan regulatif, orang bisa menafsirkannya kembali menjadi sesuatu yang lain, karena sistem itu menjadi suatu significance (“Myth Today” dalam Mythologies). Dalam arti ini, sistem bahasa menjadi sistem tanda, yang mengisahkan sesuatu yang personal dan hanya terjadi dalam pengalaman. Jadi, diganti dengan tanda apapun, meskipun ‘c’ dan ‘k’ diganti dengan dua ‘*’, regulasi yang dihasilkan tidak akan begitu saja menghilangkan makna kecabulan yang memang tak terdefinisikan secara akurat, seakurat pengalaman pemakainya.

Dari sini, dapat dimengerti bagaimana usaha penggantian tanda-tanda yang mewakili suatu konsep atau makna tidak semulus harapan untuk menyembunyikan atau bahkan menghilangkannya. Di negara yang tidak terlalu merdeka ini, kita patut bersyukur kita disuguhi tontonan seperti Republik Mimpi, di mana dalam acara itu, meskipun ada Butet, Jarwo Kwat dan kawan-kawan, hadir pula di sana tokoh-tokoh sesungguhnya, yang meski telah digantikan, tetap saja signifikan.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: