Sebuah Arsitektur dari Estetika?

27 08 2008

Goenawan Mohamad menuliskan dalam percikan idenya, demikian: “tiap arsitektur berhubungan dengan bumi, cuaca, dan sejarah.” Dapat ditemukan gagasan pendek yang bernas di bukunya TUHAN DAN HAL-HAL YANG TIDAK SELESAI, pada pokok 42. Saya senang membacanya terutama bahwa kalimat itu mengerucutkan sebuah konklusi yang penting dari muasal estetika.

Arsitektur adalah cetak biru dari setiap proses kreasi estetis. Bahwa Goenawan Mohamad menuliskan bumi dan cuaca, kiranya sangat bertepatan dengan gerakan kesadaran akan pentingnya lingkungan pada hari-hari ini. Orang terperangah akan gundulnya hutan, akan buruknya cuaca, akan sekaratnya aneka satwa dan tumbuhan. Heidegger, seperti dikutip oleh Goenawan, bahkan berucap demikian: sebuah kuil Yunani tak hanya berbicara tentang atap dan pilar, tapi interaksi antara bangunan agung itu dengan karang yang menopangnya, badai yang membasuhnya, dan batu yang jadi bahannya.

Dalam lingkup sejarah estetika, pernah muncul suatu masa yang dikekalkan dengan istilah: Environmental Aesthetics, yaitu suatu lingkup di mana muara estetika adalah semesta, lingkungan ini. Kant menyatakan konsep estetik sebagai suatu pengalaman subyek yang diprasyarati oleh disposisi: suwung, tanpa pamrih (disinterestedness). Kant sendiri begitu saya kagumi, karena dia mencontohkan disinterestedness ini dengan pengalaman yang sungguh indah: seseorang yang memandang alam, pemandangan dan tiba-tiba merasa bahagia, penuh dan konsolasi. Suwung adalah keutamaan (virtue), yang menjadikan pemandangan apapun: suasana pedesaan, tebing-tebing curam, deretan pohonan pinus, kawah belerang yang mengepul, bahkan konstelasi rapat suatu perkotaan, menjadi sesuatu yang indah (estetis!).

Dalam perkembangan zaman, sering dikatakan bahwa kualitas obyektif kategori estetis semacam ini adalah yang disebut sebagai picturesque, yaitu seperti tangkapan (capture) mata yang pantas dilukis. Banyaklah lukisan-lukisan pemandangan yang indah dan menyejukkan. Terutama karya-karya berbau zen, yang menunjukkan asrinya alam yang seperti menelan manusia (manusia digambarkan kecil, entah mendayung perahu, bercengkerama di jembatan gantung, dan lain sebagainya). Atau bahkan beberapa puisi, karya sastra dan haiku.

Bukan hanya itu, ada sebuah gerakan mengundurkan diri ke alam, misalnya pada Sastra Amerika pada akhir abad 19, yang disebut sebagai Naturalisme. Tokoh yang selalu saya ingat (dan pasti oleh orang banyak!) adalah Henry David Thoreau. Dia membangun gubug sederhana di tepi danau Walden (kelak menjadi judul bukunya), dan ia hidup secara prasaja, mandiri berdikari. Kisah ini ditulisnya dan menjadi sangat terkenal. Bahkan dia menulis demikian: Aku tidak ingin menjalani sesuatu yang bukan kehidupan, karena hidup itu berharga; aku juga tidak ingin menyepi, kecuali memang sangat perlu. Aku ingin hidup dengan mendalam dan menyedot habis semua sumsum kehidupan.

Semangat yang membara untuk kehidupan ternyata menjadi buah nyata dari estetika. Saya ingat bagaimana Gie sering mendaki gunung, berkemah selain tetap melancarkan aksi dan protesnya. Saya ingat Magnis Soeseno yang dijuluki macan gunung, di samping aktivitas humanioranya. Sungguh alam adalah arsitek estetika, sekaligus arsitek humaniora.

Yang menggelisahkan adalah bahwa alam yang merupakan nafas kreativitas semakin terbengkali. Persis oleh tindakan rakus dipadu oleh teknologi yang menggelinding tak tentu. Sejauh-jauh kita mengungsi, toh kalau alam habis, tak kan ada lagi ruang itu: ruang mencipta, ruang mencinta manusia!


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: