dialog | 2

22 01 2009

Garis memanjang, di kejauhan bukit terentang.
Ke arah sana, kita akan mengaso?
tanyamu. 

Angin melembut, sayup-sayup senja meredup.
Mungkin saja, cahaya-cahanya berumah di sana?
tanyaku.

Dan kita menatap jalan yang lindap,
dalam temaram, sekali lagi kita bersiap.

Kita tersenyum:
Perjalanan
adalah rumah yang
kian terungkap.


Actions

Information

2 responses

30 01 2009
atok

rasanya senyawa dengan coretanku ini ya;

kini
saat akhir segera dimulakan
kau tertegun, lenganmu merengkuh
mengajak ku serta tenggelam
ma’af tapi aku harus tegas bicara; TIDAK
air laut tidak akan memuaskan dahaga
seember saja nista itu
mungkin bisa mengenyangkanmu
tapi kaca yang telah retak kini
hanya memantulkan bopeng wajah kita
lebih indah kulabuhkan saja
kapal oleng ini di pantai sepi
sebelum karam
dilamun ombak

; pada bimbang kutegaskan, TIDAK

30 01 2009
Adinto Fajar

hahaha, “air laut tidak akan memuaskan dahaga/seember saja nista itu/”, nista apa mas?

oke, terimakasih apresiasinya! memang kadang bisa merasa bersenyawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: