mabuk kata-kata 2

30 03 2010

di kota di benakmu,
aku datang malam itu.

kaulah yang mengajakku menuruni
sepetak jalan, lampu-lampu yang
setengah terang. Sebuah cafe di ujung
jalan.

“Aku memesan secangkir rindu,” ujarmu.
Rindu telah lama diperam oleh si peracik
minuman. “Aku ingin kue-kue, lengkap
dengan penampang bulan, sepotong
bayangan yang jatuh di kaca-kaca perkotaan.”

Kupandangi kau serta waktu yang menginap
lama di kering kantong matamu. Aku juga
ingin kata-kata yang menghujan tanpa reda.


Actions

Information

2 responses

24 04 2010
chinkz

puisi ini membuat saya mau menulis puisi bahasa indonesia lagi : )

20 07 2010
Adinto Fajar

iya, tulis lagi ya, yang banyaak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: