Satu-satunya Jendela

28 02 2012

Satu-satunya jendela, kini kutahu
itu hanya gelisahmu. Engkau menulisnya:
Malam itu, engkau duduk menyalakan lampu.
Sambil minum air segar, dan cemilan
serumpun buah prem kering. “Aku tak bisa tidur.”

Satu-satunya pintu, kini kutahu
itu hanya di fajar yang merekah. Engkau menulisnya:
Engkau terduduk berjam-jam lamanya.
Lampu pun engkau matikan, dan tampak
gedung-gedung seperti fana. “Selama ini aku tertidur.”

Engkau tergopoh-gopoh, menuliskan surat ini padaku.
“Aku telah bersalah, tidur tak bangun-bangun.” Engkau
datang: anak yang hilang, dengan piyama belang-belang.

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: