Di Sebuah Puncak Gedung

6 03 2012

Di sebuah puncak gedung, engkau
duduk tenang dan termenung. Ada
panorama langit yang cerah, seperti
penampang hatimu yang gelisah. Pulau
hatimu yang kian terjajah.

Engkau mengacungkan telunjuk, dan ujung
matamu melirik ke belakang, seolah
menelisik buritan. “Angkat sauh, kawan!”

“Aku mau berlayar, mengarungi langit-langit kota,
menyelinap di sela-sela gedung, dan tersenyum
sinis pada peradaban para tengkorak.”

“Mati hanya sekali, habis itu sunyi.”
tulismu, jadi baris pertama sebuah lagu.
Lagu tentang perompak, katamu, yang
berlayar ke timur, hendak merampas ombak.

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: