Ombak

3 03 2014

Engkau menatapnya sejak dari kejauhan,
dan rupanya dia tak pangling padamu.

Dialah riak-riak air, yang kecipaknya
terekam dalam ingatan masa kecilmu.
Kini telah besar anak itu, pikirmu.
Ia menjadi ombak, dan senyumnya
yang lebar memantik perasaan geli:
seperti deru angin menari serta butiran
pasir dan laut yang merayapi kaki.

Kau merasa sayang, bahwa tak satupun
kata yang bisa menyapanya. Terhalang
kaca, lantai 3 kantormu.

Bagaimana mengatakan perpisahan padanya,
sambil mengharapkan ombak itu berbesar hati
menunggumu. Tolong tunggu.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: